Sabtu, 30 Agustus 2014

Ketika Ketidakjujuran Menjadi Sebuah Kebiasaan

Aku mencintainya?? Iya. Tapi bagaimana jika untuk hal kecil saja dia bisa tidak jujur? Apakah aku  harus menerima itu?? Harusnya iya, karena jika sudah berkomitmen untuk bersamanya, itu artinya aku harus mampu menerima dia, bagaimanapun dan apapun dia. Menyakitkan? Iya. Karena untuk hal kecil saja dia bisa tidak jujur bagaimana dengan hal-hal yang lebih besar?
Apa yang harus aku lakukan? Terus bertahan di sini? Menunggu dia dan ketidakjujurannya itu? Apakah aku tidak terlalu baik?
Apakah ini yang namanya sayang? Keharusan untuk tidak jujur demi sebuah kebaikan (katanya)? Apa itu diperbolehkan? Apakah itu tidak malah membuat luka pada akhirnya?
Apakah aku bisa mengatakan begini, “segala sesuatu yang dimulai dari ketidakjujuran berpotensi besar menimbulkan ketidakjujuran pula pada proses dan hasil akhirnya.”? Apakah aku bisa berkata seperti itu?
Harusnya aku menyadari jika tidak akan pernah ada manusia yang sempurna. Mereka bisa saja melakukan kesalahan, meskipun untuk kesalahan yang sama. Tapi harusnya mereka juga menyadari jika kita sebagai manusia patut untuk memperbaiki dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, karena kesalahan pertama merupakan murni kesalahan sebagai manusia yang bisa dimaklumi, kesalahan kedua merupakan kekhilafan, kesalahan ketiga merupakan kecerobohan, lalu bagaimana untuk kesalahan ke empat ke lima dan seterusnya? Apakah itu hanya murni sebuah kesalahan, atau kebodohan?
Lalu bagaimana jika ia terus mengulangi kesalahan yang sama tanpa merasa bersalah sedikitpun? Mungkin itu sudah menjadi kebiasaannya, dia mampu mengulangi suatu hal yang sama tanpa adanya penyesalan dalam hatinya. Tidak ada yang salah, tapi pernahkah dia berfikir bagaimana keadaan orang disekitarnya atas ketidakjujuran untuk hal kecil yang sudah ia lakukan? Kecewa. Aku tidak meminta kesempurnaan dalam dirinya, aku hanya ingin adanya kejujuran dan sikap apa adanya dalam proses panjang ini. 

Tuhan, aku tidak meminta dia mempertaruhkan nyawanya demi aku, aku hanya meminta dia mampu bertahan untuk aku. Aku tidak meminta dia meninggalkan keluarga dan teman-temannya demi aku, aku hanya meminta sedikit waktunya untuk bersamaku. Aku tidak memaksa dia untuk melupakan keluarga dan teman-temannya untuk aku, aku hanya meminta dia untuk menyadari bahwa ada aku di sini. Aku membutuhkanmu. Ketahuilah itu!

“Mungkin untuk saat ini aku masih bisa bertahan dalam ketidakjujuranmu, tapi entah, apa aku masih bisa menjaga kaki dan hatiku untuk tetap berada di sini dan terus melihat kebiasaanmu itu? Kita lihat saja.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar