Aku mencintainya?? Iya. Tapi
bagaimana jika untuk hal kecil saja dia bisa tidak jujur? Apakah aku harus menerima itu?? Harusnya iya, karena
jika sudah berkomitmen untuk bersamanya, itu artinya aku harus mampu menerima
dia, bagaimanapun dan apapun dia. Menyakitkan? Iya. Karena untuk hal kecil saja
dia bisa tidak jujur bagaimana dengan hal-hal yang lebih besar?
Apa yang harus aku lakukan?
Terus bertahan di sini? Menunggu dia dan ketidakjujurannya itu? Apakah aku
tidak terlalu baik?
Apakah ini yang namanya sayang?
Keharusan untuk tidak jujur demi sebuah kebaikan (katanya)? Apa itu diperbolehkan?
Apakah itu tidak malah membuat luka pada akhirnya?
Apakah aku bisa mengatakan
begini, “segala sesuatu yang dimulai dari ketidakjujuran berpotensi besar
menimbulkan ketidakjujuran pula pada proses dan hasil akhirnya.”? Apakah aku
bisa berkata seperti itu?
Harusnya aku menyadari jika
tidak akan pernah ada manusia yang sempurna. Mereka bisa saja melakukan
kesalahan, meskipun untuk kesalahan yang sama. Tapi harusnya mereka juga
menyadari jika kita sebagai manusia patut untuk memperbaiki dan berusaha untuk
tidak mengulangi kesalahan yang sama, karena kesalahan pertama merupakan murni
kesalahan sebagai manusia yang bisa dimaklumi, kesalahan kedua merupakan
kekhilafan, kesalahan ketiga merupakan kecerobohan, lalu bagaimana untuk
kesalahan ke empat ke lima dan seterusnya? Apakah itu hanya murni sebuah
kesalahan, atau kebodohan?
Lalu bagaimana jika ia terus
mengulangi kesalahan yang sama tanpa merasa bersalah sedikitpun? Mungkin itu
sudah menjadi kebiasaannya, dia mampu mengulangi suatu hal yang sama tanpa
adanya penyesalan dalam hatinya. Tidak ada yang salah, tapi pernahkah dia
berfikir bagaimana keadaan orang disekitarnya atas ketidakjujuran untuk hal
kecil yang sudah ia lakukan? Kecewa. Aku tidak meminta kesempurnaan dalam
dirinya, aku hanya ingin adanya kejujuran dan sikap apa adanya dalam proses panjang
ini.
Tuhan, aku tidak meminta dia mempertaruhkan nyawanya demi aku, aku hanya meminta dia mampu bertahan untuk aku. Aku tidak meminta dia meninggalkan keluarga dan teman-temannya demi aku, aku hanya meminta sedikit waktunya untuk bersamaku. Aku tidak memaksa dia untuk melupakan keluarga dan teman-temannya untuk aku, aku hanya meminta dia untuk menyadari bahwa ada aku di sini. Aku membutuhkanmu. Ketahuilah itu!
“Mungkin untuk saat ini aku masih bisa bertahan dalam ketidakjujuranmu, tapi entah, apa aku masih bisa menjaga kaki dan hatiku untuk tetap berada di sini dan terus melihat kebiasaanmu itu? Kita lihat saja.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar