Iya, mungkin pemikiran seperti itulah
yang akhir-akhir ini sering muncul secara tiba-tiba. Entahlah, tapi memang ada
benarnya. Semuanya seakan terus menguji kesabaranku. Mungkin dulu aku berhasil
melewati ujian kesabaran yang sangat tidak mudah itu. Tapi untuk sekarang,
rasanya aku sudah lelah untuk terus bersabar. Aku tidak berhenti mencintai dan
menyayanginya, hanya saja aku sudah sangat lelah bersabar untuknya, untuknya
yang masih belum bisa menerima kekuranganku sepenuhnya. Aku yang gampang marah dan ngambekan ini, aku yang katanya tidak pernah bisa mengerti dia, aku
yang katanya tidak sabaran dan aku
aku yang lain. Aku hanya berfikir, “kurang sabar kah aku ini? Ketika kamu
menyadari aku yang masih di sini setelah apa yang sudah kamu lakukan dulu
kepada aku?” Masih kurang ya sabarku? Harus seperti apa lagi?
Ketika aku membutuhkan dia, membutuhkan suntikan semangat, membutuhkan bahu untuk bersandar, membutuhkan tempat untuk sekedar sharing segala hal, dan yang lainnya, aku tidak pernah mendapatkan itu. Aku belum menemukan semua itu pada dirinya, malah aku mendapatkan semua yang tidak aku dapatkan di dia dari orang lain – orang lain yang katanya sangat menyayangiku. Iya, aku tau itu sebenarnya, aku tau mana yang benar – benar mencintaiku dan menginginkanku dalam hidupnya dan mana yang hanya sekedar mencintaiku saja. Aku hanya berusaha menjadi orang yang terus menjaga komitmen, aku bisa saja pergi dan memulai sebuah hubungan dengan orang lain yang lebih membuat aku nyaman, yang lebih mencintaiku dan bisa lebih menerima aku apa adanya, tapi aku masih di sini, masih bertahan untuk orang yang (mungkin) tidak pernah merasa bahwa aku sangat mencintainya, bahwa aku menginginkannya. Sebenarnya aku hanya terlihat bodoh ketika bersamanya, aku merasa menjadi orang lain ketika bersamanya, berusaha menjadi orang yang bisa ia terima. Tapi aku masih di sini, masih terus bersabar untuknya.
Mungkin aku memang tidak sesabar dulu lagi. Iya, memang. Andai aku masih sekuat dulu, mungkin semuanya akan baik-baik saja, sayangnya semua berubah, dulu aku yang sangat sabar menghadapi dia dan apapun itu, sekarang sudah semakin menuntut untuk dihargai. Bukan sebagai bentuk balas dendam atas perbuatannya atau pemberontakan terhadapnya. Hanya saja mungkin aku sudah lelah untuk bersabar dan menjadi orang lain. Mungkin stock kesabaranku sudah semakin menipis, harus dicharge rupanya. "Yang perlu kamu tau, aku sangat menyayangimu, tidak peduli ada orang yang mempunyai sayang yang lebih besar untukku di luar sana, aku hanya ingin kamu. Aku sudah lelah untuk memulai hubungan baru dan mengenal orang lain dari awal lagi." Tapi, anyway, aku hanya berusaha menunjukkan aku yang sebenar-benarnya, bukan aku yang seharusnya.
“SOMETIMES I PRETEND TO BE NORMAL, BUT IT GETS BORING, SO I GO BACK TO BEING ME”