Sabtu, 30 Agustus 2014

[ketika aku menunggu sekedar ucapan darimu]

Sesibuk itukah kamu? pertanyaan itu yang masih terus ingin aku temukan jawabnya hingga detik ini. tidak ingatkah kamu hari ini hari apa?akan  ada moment yang spesial gak untuk hari ini?

kebetulan saja pukul 12 tadi malam, aku belum bisa memejamkan mataku untuk mengistirahatkan seluruh sendi dan syaraf-syaraf di tubuhku. tidak sengaja pula aku berfikir dan bertanya pada diriku sendiri. apakah dia orang yang benar-benar aku cari? apakah aku sudah merasa bahagia bersamanya? aku tak sengaja juga melihat layar di telepon genggam ku, tak ada aktifitas apa-apa di sana. Hanya diam! 

mungkin kamu lupa, aku sadari itu. atau kamu tertidur ketika ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan "Selamat Ulang Tahun" untukku. aku menunggu, hingga terdengar bunyi telepon berdering, ada panggilan masuk rupanya. tapi "Private Number", aku angkat, terdengar lantunan lagu happy birthday dari suara pria di ujung telepon sana. suara yang familiar. yaa, benar, dia adalah salah satu sahabat terbaikku. kita bebicara agak lama, mataku sudah ingin terpejam, tapi aku tak tega untuk menutup teleponnya, hingga akhirnya dia menawarkan ku untuk kembali tidur. malam tadi adalah salah satu momen tidur tersingkatku hingga aku terbangun subuh tadi. Ada yang berubah di sana, ada beberapa pesan masuk, aku buka ternyata itu dari teman-teman terdekatku, Terimakasih sudah menyempatkan waktu kalian untuk mengucapkan "Happy Birthday" untukku. dan masih saja, tidak ada nama dia di inboxlist ku. mungkin dia masih tertidur hingga belum sempat memberi ucapan selamat ulang tahun untukku. 

jam menunjukkan pukul 09.35, dering pesan masuk membuyarkan lamunanku, Ya, dia akhirnya muncul, tapi tidak dengan ucapan selamat ulang tahunnya. dia cuma pamit mau pergi. oh , mungkin nanti... aku mencoba terus berpikir positif meskipun dalam keadaan yang tidak biasa sekalipun. hingga detik ini, belum ada ucapan selamat ulang tahun darinya. Apa dia Lupa????? entahlah...




Ketika Ketidakjujuran Menjadi Sebuah Kebiasaan

Aku mencintainya?? Iya. Tapi bagaimana jika untuk hal kecil saja dia bisa tidak jujur? Apakah aku  harus menerima itu?? Harusnya iya, karena jika sudah berkomitmen untuk bersamanya, itu artinya aku harus mampu menerima dia, bagaimanapun dan apapun dia. Menyakitkan? Iya. Karena untuk hal kecil saja dia bisa tidak jujur bagaimana dengan hal-hal yang lebih besar?
Apa yang harus aku lakukan? Terus bertahan di sini? Menunggu dia dan ketidakjujurannya itu? Apakah aku tidak terlalu baik?
Apakah ini yang namanya sayang? Keharusan untuk tidak jujur demi sebuah kebaikan (katanya)? Apa itu diperbolehkan? Apakah itu tidak malah membuat luka pada akhirnya?
Apakah aku bisa mengatakan begini, “segala sesuatu yang dimulai dari ketidakjujuran berpotensi besar menimbulkan ketidakjujuran pula pada proses dan hasil akhirnya.”? Apakah aku bisa berkata seperti itu?
Harusnya aku menyadari jika tidak akan pernah ada manusia yang sempurna. Mereka bisa saja melakukan kesalahan, meskipun untuk kesalahan yang sama. Tapi harusnya mereka juga menyadari jika kita sebagai manusia patut untuk memperbaiki dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, karena kesalahan pertama merupakan murni kesalahan sebagai manusia yang bisa dimaklumi, kesalahan kedua merupakan kekhilafan, kesalahan ketiga merupakan kecerobohan, lalu bagaimana untuk kesalahan ke empat ke lima dan seterusnya? Apakah itu hanya murni sebuah kesalahan, atau kebodohan?
Lalu bagaimana jika ia terus mengulangi kesalahan yang sama tanpa merasa bersalah sedikitpun? Mungkin itu sudah menjadi kebiasaannya, dia mampu mengulangi suatu hal yang sama tanpa adanya penyesalan dalam hatinya. Tidak ada yang salah, tapi pernahkah dia berfikir bagaimana keadaan orang disekitarnya atas ketidakjujuran untuk hal kecil yang sudah ia lakukan? Kecewa. Aku tidak meminta kesempurnaan dalam dirinya, aku hanya ingin adanya kejujuran dan sikap apa adanya dalam proses panjang ini. 

Tuhan, aku tidak meminta dia mempertaruhkan nyawanya demi aku, aku hanya meminta dia mampu bertahan untuk aku. Aku tidak meminta dia meninggalkan keluarga dan teman-temannya demi aku, aku hanya meminta sedikit waktunya untuk bersamaku. Aku tidak memaksa dia untuk melupakan keluarga dan teman-temannya untuk aku, aku hanya meminta dia untuk menyadari bahwa ada aku di sini. Aku membutuhkanmu. Ketahuilah itu!

“Mungkin untuk saat ini aku masih bisa bertahan dalam ketidakjujuranmu, tapi entah, apa aku masih bisa menjaga kaki dan hatiku untuk tetap berada di sini dan terus melihat kebiasaanmu itu? Kita lihat saja.”

Kamis, 28 Agustus 2014

[Akhir Pencarianku]

sekian lama ku mencari
kekasih pujaan hatiku
sekian lama ku menanti
akhirnya kau pun disini
ku ingin kau slalu disini
temani ku menjalani hari
hingga  suatu saat nanti
wujudkan segala mimpi...

kaulah yang aku minta
kaulah yang aku puja
cintaku tak kan pernah sirna
untukmu slamanya...

itu lirik lagu yang sengaja aku tulis kira-kira hampir 2,5 tahun yang lalu. Inspirasinya dari seseorang yang sedang bersamaku SAAT ITU sih... sederhana aja sebenernya. kebetulan kita berdua suka musik, dan kebetulan juga dia bisa main gitar, jadi terpilihlah dia untuk membuatkan aransemen musik dari lirik yang sudah aku buat itu. dia hanya butuh waktu sekitar 2 hari saja untuk membuat aransemen kasarnya. memang belum sepenuhnya aransemen utuh sih sampai detik ini juga, tapi setidaknya udah bisa di dengerin lah...

liriknya memang gak begitu artistik, cuma kalo untuk iseng sih, masuk lah.. hihihi
intinya sekarang ini aku lagi dengerin lagu itu, meskipun udah gak ada arti apa-apa, tapi patut untuk dijadikan unforgettable moment lah...

bukan mengharapkan untuk kembali mengulang moment-moment itu kok, sekedar mengenang saja, toh kita juga udah punya jalan hidup masing-masing dan gak perlu lagi mengulang masa-masa itu. Kita tetep Bersahabat sampai detik ini, meskipun sudah tidak sedekat dulu, setidaknya rasa sayang dalam bentuk persahabatan itu masih tetep kokoh di sini, di hati ini. Terimakasih ya ...